Selasa, 19 Maret 2019

Agenda Seting

Agenda setting adalah upaya media untuk membuat pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa. Ada strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Idealnya, media tak sekedar menjadi sumber informasi bagi publik. Namun juga memerankan fungsi untuk mampu membangun opini publik secara kontinyu tentang persoalan tertentu, menggerakkan publik untuk memikirkan satu persoalan secara serius, serta mempengaruhi keputusan para pengambil kebijakan. Di sinilah kita membayangkan fungsi media sebagai institusi sosial yang tidak melihat publik semata-mata sebagai konsumen.


Dan Agenda Setting Theory adalah teori yang menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.

Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang agenda setting adalah:

1. masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu

2.  konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain


Tahapan pembentukan Agenda Setting

Gladys Engel Lang dan Kurt Lang seperti yang dikutip dari buku Alex Sobur (2012) melakukan penelitian antara hubungan pers dan pembentukan opini publik pada skandal Watergate. Penelitian tersebut menyatakan proses penempatan isu pada agenda publik memakan waktu dan melalui beberapa tahap. Penelitian itu juga menyatakan bahwa cara media membingkai isu dan kata-kata sandi yang mereka gunakan ntuk menggambarkannya dapat mempunyai dampak dan bahwa peran-peran individu-individu terkenal yang berkomentar pada isu tersebut menjadi sesuatu yang penting


Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep agenda setting adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal
Judul Papernya adalah PROSTITUSI ARTIS ONLINE DALAM KONSTRUKSI REALITAS SOSIAL (Studi Kasus Tertangkapnya Artis AA dalam Bingkai Harian Sriwijaya Post) Oleh: Sumarni Bayu Anita, S.Sos, M.A.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membongkar isu dari prostitusi online ini melalui teori konstruksi sosialnya berger dan luckman yang menekankan pada bagian interaksi sosial yang dialektis dari tiga bentuk realitas yang menjadi entry concpet, yakni objective reality, symbolic reality, dan subjective reality

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perbedaan Penelitian Kuantitaitf Dan Kualitatif

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat eksploratif, yaitu bertujuan untuk memahami kondisi dan pemikiran masyarakat pa...