Kamis, 21 Maret 2019

Studi Kasus

Dalam tradisi penelitian kualitatif dikenal terminologi studi kasus (case study) sebagai sebuah jenis penelitian. Studi kasus diartikan sebagai  metode atau strategi dalam penelitian untuk mengungkap kasus tertentu. Ada juga pengertian lain, yakni hasil dari suatu penelitian sebuah kasus tertentu. Jika pengertian pertama lebih mengacu pada strategi penelitian, maka pengertian kedua lebih pada hasil penelitian.



Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. SementaraYin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting.

Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi:
1. sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokume
2. sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.

 Beberapa Manfaat Penelitian Studi Kasus
1. Studi Kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni menyajikan pandangan subjek yang diteliti,

2. Studi Kasus menyajikan uraian menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca dalam kehidupan sehari-hari (everyday real-life),

3. Studi Kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan antara peneliti dengan subjek atau informan,

4. Studi Kasus memungkinkan pembaca untuk menemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga keterpercayaan (trustworthiness),

5. Studi Kasus memberikan “uraian tebal” yang diperlukan bagi penilaian atas tranferabilitas,

6. Studi Kasus terbuka  bagi penilaian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomena dalam konteks tersebut.

Jenis-jenis Studi Kasus 
a. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada perhatian organisasi

tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan rnenelusuni perkembangan organisasinya. Studi mi sening kunang memungkinkan untuk diselenggarakan, karena sumbernya kunang mencukupi untuk dikerjakan secara minimal.

b. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalul observasi peran-senta atau pelibatan (participant observation), sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu.. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah.

c. Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu onang dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas. Wawancara sejarah hiclup biasanya mengungkap konsep karier, pengabdian hidup seseorang, dan lahir hingga sekarang. masa remaja, sekolah. topik persahabatan dan topik tertentu lainnya.

d. Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas), bukannya pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi.

Judul paper yang di buat oleh Sumarni Bayu Anit, S.Sos, M.A adalah : ANALISIS PERENCANAAN & STRATEGI KOMUNIKASI BIROKRASI: STUDI KASUS TENTANG IMPLEMENTASI PROGRAM JENJANG JABATAN AKADEMIK DOSEN DI KOPERTIS WILAYAH II PALEMBANG

Metodologi Penelitian

Berdasarkan tulisan Creswell (2010(, maka penelitian ini termasuk penelitian dengan pendekatan kualitatif karena ingin memahami bagaimana kopertis Wilayah II Palembang melaksanakan perencanaan dan strategi komunikasi birokrasi dalam pengimplentasian program JJA Dosen yang berada di lingkungannya. Secaralugas, rancangan penelitian dalam penelitian ini, yaitu:

1. Asumsi-asumsi pandangan dunia filosofisnya adalah pragmatisme. Menurut Creswell (2010:15-17), pragmatisme sebagai pola pikir muncul dalam tindakan, situasi, dan konsekunsei serta solusi terhadap masalah-masalah yang muncul.

2. Strategi penelitian yang berhubungan asumsi-asumsi tersebut adalah studi kasus. Creswell (2010:20) menyatakan bahwa studi kasus merupakan strategi penelitian dimana di dalamnya peneliti menyelidiki  secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses,  atau sekelompok individu.

3. Metode atau prosedur-prosedur spesifik yang dapat menerjemahkan strategi tersebut ke dalam praktik nyatanya adalah wawancara dan studi literatur. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data primer langsung dari informan kunci, sedangkan studi literatur dilakukan untuk memperoleh data sekunder melalui bermacam sumber tertulis seperti laporan hasil penelitian, buku, dan tulisan-tulisan di internet.


  Hasil Analisis & Diskusi.

Sekarang kebutuhan tenaga spesialis untuk menggerakkan program komunikasi makin banyak diperlukan. kebutuhan ini tidak saja untuk menjalankan program kehumasan di lembaga-lembaga pemerintahan dan perusahaan swasta (corporate) untuk kebutuhan pencitraan atau penanganan konflik antara media dengan instasi, tapi lebih jauh pada usaha-usaha untuk meningkatkan pemahaman atas sebuah kampanye atau program sehingga tujuan dapat di capai. dari berbagai pengalaman dalam melaksanakan program-program pembangunan tidak sedikit yang mengalami kegagalan akibat dukungan komunikasi yang kurang atas program tersebut. berdasarkan pemahaman itu yang di pandu dengan teori mengenai perencanaan komunikasi difusi inovasi oleh Everett M. Rogers.

  Kesimpulan

tidak ada model perencanaan komunikasi yang dapat di gunakan secara universal (tidak ada yang ideal) melainkan sesuai dengan kondisi dan realitas yang ada. perencaan dan strategi komunikasi perlu dibuat untuk menggantisipasi gangguan dan rintangan yang terjadi dalam sebuah program yang dilakukan. dari penelitian ini, di peroleh hasil bahwa kopertis wilayah II palembang sudah melaksanakan program JJA dosen dengan baik sesuai dengan kebijakan komunikasi yang di amanahkan oleh kemendikbud melalui permenpan nomor 17 tahun 2013. kopertis wilayah II palembang juga sudah berusaha melakukan koordinasi yang baik dengan pimpinan-pimpinan PTS yang berada dibawah naungannya untuk mensosialisasikan kepada para dosen mereka agar aktif dalam program JJA dosen. kalaupun masih di temukan kendala ditubuh kopertis sendiri, maka dari hasil penelitian ini diketahui bahwa dari 8 macam rintangan yang di klasifikasikan oleh Canggara (2013: 37-39), adapun rintangan yang paling besar yang dihadapi oleh kopertis wilayah II palembang dalam implementasi program JJA dosen adalah rintangan birokrasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perbedaan Penelitian Kuantitaitf Dan Kualitatif

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat eksploratif, yaitu bertujuan untuk memahami kondisi dan pemikiran masyarakat pa...